Belgium: How to Gain Weights in 3 Days
- Ajeng Araini-Kusno

- 12 Des 2017
- 4 menit membaca
Diperbarui: 25 Jul 2021
Bulan Mei 2017 lalu saya dan seorang teman jalan-jalan ke Belgia dalam rangka long weekend (Sabtu-Senin). Kami mengunjungi 3 kota dalam 3 hari: Brussels, Bruges dan Antwerp. Sepulangnya saya dari Belgia (ke Belanda), timbangan berat badan saya naik 3 kg! I am not happy with that, but I’ll tell you how!
Day 1: Brussels & the Belgian Waffles
Saya naik bis paling pagi dari Belanda dan tiba pagi hari di Brussels. Teman saya dari London sudah tiba lebih dahulu karena ia naik bis malam. Sehabis check in di hotel (kami beruntung boleh check in pagi-pagi), kami memutuskan untuk city sightseeing. Sebelum kami pergi, petugas hotel pun mengingatkan “jangan lupa mencicipi Belgian Waffles ya!”. So, that’s what we did! Jajan waffle isi cokelat di pinggir jalan. Enak banget! Dan harganya juga murah banget ternyata, kalau tidak salah ingat sekitar €2.

Belgian waffles, photo courtesy of Ixora Adisti
Setelah puas jajan kami pergi ke Atomium. Bangunan berbentuk bola atom dari bahan metal ini dahulu di bangun untuk World Expo 1958. Kakek dan nenek saya bahkan datang ke acara pembukaannya!
Dari Atomium kami memutuskan untuk kembali ke pusat kota tua dan ikut free walking tour mengelilingi Brussels. Sebelumnya saya sudah pernah ikut free walking tour di Utrecht, Krakow dan Bratislava. Semua tur gratis yang pernah saya ikuti di 3 kota tersebut keren banget. Jadi saya punya ekspektasi tinggi untuk free walking tour Brussels ini.
Tur dimulai dari Grand Place atau yang disebut juga dengan Grote Markt, town square utama di pusat kota tua Brussels. Mungkin karena saat itu musim semi jadi Grote Markt dipenuhi banyaaak sekali turis! Begitu pula peserta tur kami! Grup tur nya besar sekali sampai sulit mendengar perkataan guide. Bahkan rasanya saya tidak dapat mendengar apa-apa saking banyaknya peserta tur dan pemandu tidak membawa pengeras suara. Setelah mendengarkan penjelasan sayup-sayup mengenai patung legendaris Mannequin Pis (yang ternyata berukuran mini seperti hiasan air mancur taman) dan tembok berlukiskan mural Tintin, saya dan teman saya mulai kesal! That was the worst free walking tour we’ve ever had! Kami kemudian memutuskan untuk meninggalkan tur dan berjalan-jalan sendiri keliling Brussels.
Ketika sore tiba, teman saya yang sugar addict penasaran ingin mencicipi waffle lagi. Ternyata toko waffle yang kami datangi kali ini tidak hanya menjual waffle manis, tetapi juga menjajakan waffle asin. Konsepnya mirip dengan pancake Belanda. Jadi saya memutuskan untuk icip-icip waffle isi salmon! Enak loh! Porsinya juga besar sekali sampai saya tidak sanggup lagi makan malam!

Saya (sisi kanan) dan waffle isi salmon, photo courtesy of Ixora Adisti
Day 2: Bruges & the Belgian Fries
Setelah menginap di Brussels semalam, jadwal hari ke-2 trip kami adalah day trip ke Bruges, dan kemudian bermalam di Antwerp. Brussels - Bruges kami tempuh dalam 1 jam menggunakan kereta lokal.
Bruges ternyata cantik sekali! Definitely a must visit city in Europe! Kami salah strategi hanya menjadikannya kota day trip. Harusnya kami menginap di Bruges biar puas menjelajah, hehe... Di Bruges kami canal tour dan (tanpa direncanakan) menghabiskan waktu lama sekali di Historium. Historium adalah semacam museum di pusat kota tua Bruges yang menceritakan mengenai kota Bruges di abad 15 melalui penelusuran kisah fiktif dari sebuah lukisan Jan van Eyck. Keren banget pokoknya! Selesai dari Historium kami kelaparan dan memutuskan untuk late lunch di restaurant lokal terdekat. Astaga! Satu porsi makanan di Belgia ternyata besar sekali, bisa untuk makan raksasa!

Porsi makan siang di Belgia, photo courtesy of Ixora Adisti
Oh ya, berhubung makan siang pakai kentang, saya jadi ingat kalau ada cerita unik tentang kentang goreng dan Belgia. Selama ini saya biasanya menyebut kentang goreng sebagai “French Fries”. Ternyata, menurut orang Belgia, kentang goreng adalah “penemuan” dari Belgia dan bukan Perancis!
Wilayah Belgia terbagi atas daerah yang berbahasa Perancis dan yang berbahasa Belanda. Alkisah, suatu saat ada tentara Amerika sedang berada di wilayah Belgia yang berbahasa Perancis. Sang tentara pun mencicipi kentang goreng Belgia yang super enak. Oleh karena daerah tersebut berbahasa Perancis maka ia dengan seenak-enaknya menyebut makanan yang ia santap sebagai “French Fries” dan kemudian mempopulerkannya ke Amerika. Hmm.. sejarah makanan yang menarik...
Sebenarnya di Bruges ada juga museum cokelat (Choco-Story) dan museum kentang goreng (Frietmuseum). Sayang sekali kami tidak sempat mengunjunginya. Hopefully next time :)
Day 3: Antwerp & the Belgian Chocolates
Malam terakhir kami di Belgia kami habiskan dengan menginap di Antwerp. Namun, karena kami tiba di Antwerp cukup larut, kami tidak sempat melihat-lihat kota. Keesokan paginya kami juga hanya punya sedikit waktu sebelum harus kembali ke Belanda dan Inggris. Jadi kami memutuskan untuk sarapan waffle (lagi) di Grote Markt. Kali ini saya mencicipi waffle manis dengan whip cream, nyam!

Sarapan waffle @ Grote Markt Antwerp, photo courtesy of Ixora Adisti
Berhubung toko-toko dan cafe masih tutup jadi sebelum sarapan kami berfoto dulu bersama patung air mancur Brabo. Siapa sih Brabo? Menurut legenda, ada raksasa yang ‘hobi’ meminta uang kepada orang-orang yang mau melintasi jembatan. Raksasa itu juga akan memotong tangan orang yang tidak mau memberinya uang. Singkat cerita, si raksasa berhasil dikalahkan oleh Brabo dan Brabo memotong tangan si raksasa. Sepintas monumen Brabo ini mirip dengan patung David and Goliath. Bedanya, Brabo melempar potongan tangan.
Di Grote Markt juga ada the Cathedral of Our Lady yang didalamnya terdapat lukisan Ruben. Gereja ini menjadi latar bagi novel berjudul A Dog of Flanders (1872) yang menceritakan persahabatan seorang anak laki-laki bernama Nello dan seekor anjing bernama Patrasche. Kini di depan gereja ada patung Nello dan Patrasche yang sedang tidur.
Bis teman saya ke London berangkat lebih dahulu daripada bis saya ke Belanda. Jadi saya menghabiskan sisa waktu di Antwerp sendirian dengan berkeliling kota menggunakan city tour bus selama 1 jam. Sayang sekali saat itu hari senin, jadi semua museum di Antwerp tutup. Padahal saya ingin sekali mengunjungi Red Star Line Museum. Museum mengenai sejarah emigrasi orang Eropa ke Amerika dari Antwerp.
Akhirnya saya ‘nongkrong’ di stasiun kereta Antwerp Central sambil menunggu bis ke Belanda. Stasiun ini dibangun di akhir abad 19 dan arsitekturnya keren banget! Tapi, hal yang paling berat untuk tidak dilakukan saat menunggu bis adalah ‘nyomotin’ Belgian Chocolates yang memenuhi ransel saya untuk oleh-oleh dan titipan teman.
Di Brussels dan Bruges, kami menemukan toko coklat diseluruh penjuru kota. Bahkan brand sekaliber Godiva saja tokonya bertebaran dimana-mana! Sungguh menggoda iman. Alhasil kami bolak balik jajan cokelat. Dari praline, truffle, sampai coklat kepingan yang akan berubah menjadi hot chocolate kalau dimasukkan kedalam susu panas kami borong dan cicip semua. Hmm.. nyam!
Nah, itulah rahasianya bagaimana berat badan saya bisa meroket hanya dalam 3 hari: kenyang waffle, kentang goreng dan cokelat! Belgia memang surga makanan enak. Tapi kalau lagi diet atau mau strict hidup sehat, mending jangan ke Belgia deh! Banyak sekali ‘godaan’ disana :)
![Banda Aceh: 5 Places to Eat [During Pandemic]](https://static.wixstatic.com/media/a08364_5cfc2a441ef64e0f944bedef51ff4745~mv2.png/v1/fill/w_980,h_980,al_c,q_90,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/a08364_5cfc2a441ef64e0f944bedef51ff4745~mv2.png)


Komentar