Seoul: Children's Museums
- Ajeng Araini-Kusno

- 25 Jul 2021
- 6 menit membaca

Tanggal 23 Juli memang dirayakan sebagai Hari Anak Nasional. Ucapan "Selamat Hari Anak" tiba-tiba ramai berseliweran di feed media sosial saya. Saya pun jadi "latah" ingin bikin konten yang berhubungan dengan anak juga. Tapi, bikin apa ya? Lalu saya ingat kalau saya punya draft tulisan tentang Children's Museum di Seoul ketika saya kesana 5 tahun silam.
Bagi saya pribadi, mengingat-ingat trip-trip lampau merupakan salah satu cara untuk mentally survive di era pandemi ini. Cara untuk melupakan sejenak berita, cerita, dan angka-angka mengerikan, serta kabar duka yang datang hampir setiap hari. Mood (and hopefully imune) booster istilahnya.

Belakangan (tentu saja sebelum pandemi) trip ke Korea Selatan lagi happening banget untuk orang Indonesia. Tapi, did you know kalau jalan-jalan ke Korea Selatan tidak hanya soal belanja skin care dan napak tilas tempat shooting drakor atau video clip K-Pop? Ternyata, museum-museum di Korea Selatan, terutama di Seoul, oke banget untuk anak-anak. Museumnya interaktif, ada label Bahasa Inggris (untuk orang tua), dan seringnya, GRATIS! Bisa banget lho untuk jadi salah satu destinasi tujuan kalau ke Seoul.
Children's Museum of the National Museum of Korea*
Children's Museum yang pertama saya datangi ini berada di satu komplek yang sama dengan National Museum of Korea, tetapi terletak di bangunan yang berbeda. Museumnya gratis dan dulu (di tahun 2016) akses masuknya first come first served. Maksudnya, museum punya batasan kapasitas pengunjung, dan siapa yang datang lebih dulu boleh masuk. Kalau sudah penuh ya tidak boleh masuk lagi dan harus tunggu slot berikutnya. Sekarang, apalagi nanti di era post-pandemic, pasti aturannya lebih ketat.

Nah, Children's Museum ini sebetulnya isinya sama dengan narasi besar National Museum of Korea, yakni tentang kehidupan orang Korea di masa lalu. Namun, tata pamernya di desain dengan interaktif. Interaktif yang saya maksud tidak sama dengan full teknologi digital ya, tetapi lebih ke aktivitas fisik yang mengoptimalkan 5 panca indera. Misalnya, mengikuti jejak di lantai, berkreasi dengan puzzle dan balok, meraba tekstur, mendengarkan bunyi-bunyian, atau mencium bau tertentu.

Misalnya, saat pertama memasuki ruangan Children's museum, pengunjung lantas disambut oleh rumah tradisional Korea yang boleh dimasuki oleh pengujung. Pengunjung bahkan boleh pegang-pegang perabotan dan peralatan rumah tangga di dalamnya. Pengunjung juga dapat mencoba untuk membuat miniatur rumah tersebut dari balok-balok kayu.

Kemudian, ada juga (tiruan) tempat pembuatan gerabah (kiln) yang memperlihatkan bagaimana cara gerabah dibuat. Puzzle 3D pecahan gerabah (yang dilengkapi dengan semacam magnet) juga disediakan agar pengunjung bisa merekonstruksi ulang berbagai bentuk gerabah.


Pengunjung anak-anak dan orang tuanya juga dapat merasakan langsung bagaimana rasanya jadi orang Korea dengan cara memakai pakaian dan perhiasan yang biasa dipakai oleh orang Korea di zaman dahulu. Disini dijelaskan juga bahwa jenis pakaian dan perhiasan yang berbeda menunjukkan perbedaan status sosial seseorang.

Pengunjung (baik anak maupun dewasa) juga dapat mencoba berburu kelinci lho seperti orang Korea di zaman dahulu. Tombak mainan yang disediakan harus betul-betul dilemparkan ke kelinci digital yang terus bergerak. Susah! Saya gagal terus berburu kelinci, untung tidak beneran hidup di zaman dulu hehe...
Ketika saya berkunjung ke National Museum of Korea 5 tahun silam, di Children's Museum nya juga sedang ada special display tentang Kerajaan Silla, salah satu Kerajaan Kuno di Korea Selatan. Anak-anak dapat mengintip regalia Kerajaan Silla, juga berfoto sebagai anggota keluarga Kerajaan Silla.

Makam Silla yang berbentuk seperti bukit bahkan di desain sebagai perosotan! Anak saya yang paling besar (saat itu ia berusia 5 tahun) tentunya senang sekali bermain dan merosot di "bukit" itu. Sedangkan saya, lebih tertarik dengan peta jalur perdagangan Kerajaan Silla yang berukuran raksasa di dinding. Petanya dilengkapi dengan unta-unta yang bisa dijalankan maju mundur di jalur sutra. Ternyata, Kerajaan Silla telah berdagang dengan pedangang Muslim dari Arab dan Persia, dan menjadi bagian dari Jalur Sutra.

Children's Museum ini juga dilengkapi dengan area tempat anak-anak boleh makan dan minum, perpustakaan anak (dan tempat melakukan kegiatan prakarya), serta toko suvenir yang menjual mainan. Siap-siap bangkrut, barang-barang yang dijual lucu-lucu, pasti godaan untuk belanja sulit ditampiskan, hehe...
Children's Museum of the National Folk Museum of Korea*

Memisahkan diri dari rombongan keluarga besar, saya (bersama anak saya yang berumur 10 bulan dan seorang sepupu) juga menyempatkan diri untuk melipir ke Children's Museum of the National Folk Museum of Korea yang berada tepat di sebelah Istana Gyeongbokgung.
Sama seperti di National Museum of Korea, Children's Museum ini juga berada di gedung tersebdiri, gratis, dan first come first served. Namun, bangunannya lebih besar dari milik National Museum of Korea. Children's Museum nya National Folk Museum of Korea ini bahkan terdiri atas dua lantai. Saat itu, lantai pertama berisi kisah mitologi Korea tentang matahari dan bulan berjudul Sister Sun and Brother Moon, sedangkan lantai dua nya membahas habis tentang pohon dan bertajuk Story of Tree.
Kisah Sister Sun and Brother Moon dimulai dengan adegan seorang ibu yang dimakan oleh harimau di hutan dalam perjalanannya pulang ke rumah. Ibu tersebut memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Tentu saja adegan dimakan harimau tersebut tidak divisualisasi di museum. Museum memilih untuk menampilkan suasana hutan. Pengunjung dapat melihat berbagai hewan yang tinggal di hutan dengan cara menyinari āpepohonan gelapā dengan bantuan lampu senter. Anak-anak juga dapat meraba tekstur kulit dan bulu binatang yang berbeda, serta mencium bau beberapa jenis bunga.


Kemudian, diceritakan bahwa harimau tiba di rumah anak-anak sang ibu yang dimakannya tersebut. Harimau bahkan menyamar menjadi sang ibu untuk mencoba memakan anak-anaknya juga. Setting rumah Korea lantas ditampilkan di museum. Di dalam rumah tersebut pengunjung harus melakukan berbagai kegiatan permainan dalam rangka menyelamatkan anak-anak dari harimau. Misalnya dengan cara mencocokkan berbagai bentuk peralatan dapur, atau bermain tali temali.

Berdasarkan versi cerita mitologinya, ke-2 anak tersebut kemudian memanjat tali temali di belakang rumah dan memohon keselamatan. Mereka pun lantas berubah menjadi bulan dan matahari. Museum memvisualisasikan kisah tersebut dengan cara menampilkan tema siang dan malam di akhir ruangan. Di ruangan tersebut anak-anak juga dapat membuat kerajinan tangan dan berkreasi dengan tema matahari, bulan dan bintang.

Berbeda dengan area di lantai 1, tema di lantai 2 adalah tentang pohon, Story of Tree. Di ruangan ini anak dapat mengeksplorasi dan mempelajari tentang pentingnya pohon bagi kehidupan. Awalnya, saat pertama memasuki ruangan, pengunjung akan menghadapi permainan mengenai bagian-bagian pohon. Kemudian mereka dapat mencium dan meraba bau dan tekstur kayu yang berbeda-beda dari berbagai jenis pohon. Dijelaskan juga manfaat pohon untuk kehidupan manusia sehari-hari. Selain itu, anak-anak juga dapat mempelajari umur pohon dari lingkaran-lingkaran yang terlihat di kayu. Anak saya si bayi tentunya ikut tengkurep di atas potongan ābatang pohonā raksasa di area ini.

Namun, bagian paling menarik dari lantai 2 ini menurut saya adalah area membuat rumah kayu Korea atau yang biasa disebut dengan hanok. Pertama-tama, anak-anak harus menggergaji kayu, lalu mengampelas kayunya. Tentu saja semua kegiatan tersebut didesain dengan ramah anak. Maksudnya, aktivitasnya didesain sedemikian rupa sehingga anak-anak tidak mungkin terluka karena terkena gergaji. Terakhir, anak-anak harus membangun rumah dengan menggunakan puzzle balok 3 dimensi. Di area tersebut sudah berdiri pula rekonstruksi rumah kayu Korea yang dapat dimasuki. Rumah ini juga tampaknya berperan sebagai āhasil akhirā dari rumah yang telah dibangun oleh pengunjung anak.

Pembahasan di rumah ini terutama dititikberatkan pada teknologi ondol, yakni sistem penghangat tradisional (dari bawah lantai kayu) yang digunakan di rumah-rumah kayu tradisional Korea. Juga tentang teknologi memasak menggunakan kayu bakar.

Di area paling ujung dekat pintu keluar, dibahas pula mengenai produk-produk yang terkait dengan kayu dan pohon, misalnya industri kertas dan penerbitan. Juga dibahas tentang kerusakan hutan serta terselip pesan tentang pentingnya usaha menjaga hutan.

Walaupun Children's Museum ini di desain khusus untuk anak-anak dan sangat stroller friendly, namun ada satu kekurangannya: museum tidak di desain agar ramah bayi! Tidak ada ruang ganti untuk bayi di dalam bangunan Children's Museum ini. Saya harus berjalan cukup jauh ke bagunan utama museum untuk dapat menemukan tempat ganti bayi. Repot sekali!
Berbeda sekali dengan di the National Museum of Modern and Contemporary Art Seoul (NMMCA) yang berada tepat di seberang National Folk Museum of Korea. Ketika saya ke toilet di NMMCA, di dalam bilik toilet ada tempat duduk khusus untuk bayi kalau-kalau si bayi harus menunggu ibunya di toilet. Saya terharu! Sangat memudahkan untuk ibu-ibu yang membawa anak (bayi) sendirian ke museum seperti saya.

Refleksi untuk (Museum) Indonesia...
Seperti yang sudah pernah saya bahas di buku #MuseumTravelogue Asia (terbitan Stiletto Indie Book tahun 2019), Childrenās Museum idealnya mengusung tema yang sama seperti pameran permanen museum, namun disajikan dalam bentuk tata pamer yang ramah anak. Childrenās Museum bukan semata-mata menyediakan pojok tempat pengunjung anak dapat bermain (atau mewarnai), namun tema permainan (atau aktivitas lainnya) tidak sesuai dengan konteks yang dibahas dalam pameran museum.
Selain itu, pasca pandemi, aktivitas untuk anak di museum juga tentunya butuh perhatian khusus. Museum harus ekstra memutar otak agar aktivitas untuk anak tetap menarik dan interaktif, tetapi juga aman dari penyebaran virus penyakit.
Last but not least, kalau nanti pandemi sudah berlalu dan bisa jalan-jalan lagi ke Seoul, jangan lupa bawa anak ke Children's Museum ya! Bukan hanya National Museum of Korea dan National Folk Museum of Korea yang punya Children's Museum. Museum-museum lain seperti National Museum of Modern and Contemporary Art, War Memorial of Korea, dan Seoul National Science Museum juga memiliki Children's Museum. Seru lho, belajar sejarah, seni dan kebudayaan Korea sambil bermain. Pastinya anak dapat pengalaman yang berbeda. Siapa tahu bisa barengan fangirling atau relate bahas drakor sama ibunya, eh?!
*Catatan: tata pamer yang saya bahas di kedua museum ini adalah tata pamer museum yang saya kunjungi di tahun 2016. Kemungkinan besar kini pamerannya sudah berganti. Cek website museum yang bersangkutan untuk update informasi jika ingin berkunjung. Tulisan ini juga bukan sponsored post dari kedua museum yang di review.
PS. Terimakasih untuk sepupu-sepupu saya yang jadi model candid dan ikut mejeng di post ini, hehe...



Komentar