Adelaide: Kota Festival
- Ajeng Araini-Kusno

- 2 Okt 2021
- 7 menit membaca

Pada zaman dahulu kala (tsah!), saya pernah tinggal di Adelaide, ibukota South Australia, sekitar 1,5 tahun. Tepatnya dari pertengahan tahun 2007 sampai akhir tahun 2008. Selama 1,5 tahun itu saya sering sekali menghadiri festival, dari festival seni, budaya, sampai sejarah.
Memang Adelaide bisa dibilang sebagai kota festival. Banyak sekali acara festival tahunan yang diselenggarakan di Adelaide. Acaranya tidak hanya berlangsung di gedung Adelaide Festival Centre, tapi bisa juga diselenggarakan di venue lain seperti perpustakaan, kampus, museum, botanical garden, galeri seni, taman, bar, sampai jalanan! Acara-acaranya ada yang berbayar, namun banyak pula yang gratis. Biasanya, acara pembukaan suatu festival sering diselenggarakan gratis dalam bentuk pertunjukkan di jalanan. Tentu saja jalanan ditutup untuk itu. Seru pokoknya!

Btw, tulisan ini adalah memori saya ketika menghadiri festival-festival tersebut saat saya tinggal di Adelaide dulu. Namun, saya juga berusaha untuk memberikan update informasi terbaru terkait festival-festival tersebut di Adelaide masa kini. Tapi, berhubung saya sudah tidak lagi tinggal di Adelaide, jadi correct me if I am wrong yaa...
Royal Adelaide Show
This is my favourite Adelaide's festival of all! Royal Adelaide Show adalah festival tertua di Adelaide yang sudah eksis sejak tahun 1840! Acara ini diselenggarakan oleh Royal Agricultural and Horticultural Society of South Australia. Jadi, konsep awalnya adalah pameran produk pertanian dan peternakan.
Kini Royal Adelaide Show biasanya diselenggarakan di sekitar bulan Agustus/September di Adelaide Showgrounds. Selain pameran hewan-hewan peternakan - saya ingat saya pernah melihat Babi dan Llama yang dipamerkan di Royal Adelaide Show - ada pula stall-stall yang menjual makanan dan permainan ketangkasan. Plus, ada wahana-wahana yang dapat dinaiki, misalnya roller coaster, komidi putar, ferris wheel, dkk. Selain itu, di malam hari biasanya juga ada pertunjukan kembang api.
Jajanan favorit saya di Royal Adelaide Show tentu saja churros dan gulali. Saya juga pernah lho memenangkan boneka kuda berukuran besar di salah satu stall permainan ketangkasan. Tapi, teman-teman saya tidak terlalu happy saya menang. Masalahnya, saking besarnya si kuda, kami jadi harus repot duduk berdesakan dengan si kuda raksasa di mobil di jalan pulang dari Royal Adelaide Show. Untung lokasi Adelaide Showgrounds tidak jauh dari rumah kami, hehe...

Tahun 2020 dan 2021 ini penyelenggaraan Royal Adelaide Show terpaksa dibatalkan karena pandemi Covid 19. Sepanjang sejarah, hanya beberapa kali Royal Adelaide Show tidak diselenggarakan. Yakni ketika Perang Dunia 1 dan 2, serta tahun 1919 saat Pandemi Flu Spanyol berkecamuk.
Adelaide Festival
Adelaide Festival merupakan salah satu festival besar di Adelaide yang mencakup festival seni rupa visual, musik, film screening, teater dan tari, serta festival literasi, yang dihelat setiap bulan Maret. Awalnya, Adelaide Festival adalah festival biennial, namun sejak tahun 2012 menjadi annual festival.
Biasanya acara-acara Adelaide Festival di helat di berbagai macam venue, tergantung acaranya. Ada yang berbayar, ada pula yang gratis. Sebagai mahasiswi yang isi dompetnya saat itu tidak tebal-tebal amat, terpaksa saya skip acara-acara musik, teater dan dance performance yang berbayar. Tapi, tahun 2008 silam, saya sempat datang ke 2-3 acara Adelaide Festival yang gratis.
Acara pertama tentu saja pameran Adelaide Biennial of Australian Art yang bertajuk "Handle with Care". Acaranya digelar di kampus saya, Art Gallery of South Australia, jadi saya dapat akses masuk gratis, hehe... Pameran seni rupa kontemporer ini mengangkat tema isyu sosial politik yang berhubungan dengan rapuhnya batas dan hubungan lintas budaya, rasial, nasional dan psikologis.
Kalau tidak salah ingat, saya juga datang ke pameran "Ngurarra: the Great Sandy Desert Canvas" di South Australian Museum. Pameran ini menampilkan karya seni rupa (dot painting landscape dreaming) Indigenous Australians dari the Great Sandy Desert. Juga tentang kontak budaya antara tetua Indigenous Australians dengan antropolog kulit putih yang risetnya berlangsung di daerah tersebut tahun 1950-an.

Best of the best dari acara Adelaide Festival yang disponsori oleh Adelaide Bank di tahun 2008 adalah: festival Northern Lights! Tema Adelaide Festival tahun 2008 tersebut memang cahaya. Jadi, selama sekitar 2 minggu saat festival berlangsung, heritage buildings di pusat kota Adelaide di jalanan North Terrace disinari instalasi video mapping. Mulai dari matahari tenggelam hingga pukul 2 pagi, State Library of South Australia, Australian Museum, Art Gallery of South Australia, Mitchell Building dan Bonython Hall (bagian dari gedung kampus University of Adelaide) jadi berwarna-warni dan berubah-ubah desain. Keren banget!
Dalam rangka Writer's Week sebagai bagian dari Adelaide Festival, State Library of South Australia juga menyelenggarakan acara living book. Maksudnya bagaimana? Jadi, ada orang-orang yang berperan sebagai "buku hidup". Pengunjung perpustakaan bisa meminjam, alias ngobrol, dengan para living book tersebut yang profilnya sudah dipublikasikan sebelumnya. Jadi, peminjam bisa memilih mau bercakap-cakap dengan siapa.
Terlepas dari acara Adelaide Festival, saya sendiri pernah volunteer jadi living book di acaranya City of Unley Library (daerah suburb Adelaide). Pembaca yang "meminjam" saya ada 2. Pembaca pertama adalah alumni dari jurusan kuliah yang sama dengan saya. Dia kangen kampus dan menanyakan kabar dosen-dosen. Sedangkan pembaca ke-2 khusus mau mengobrol dengan saya tentang Islam. Berat!
Kembali ke Adelaide Festival, selain acara offline, kini Adelaide Festival 2021 juga punya podcast! Terutama yang berkaitan dengan Festival Forum dan Adelaide's Writer's Week. Adelaide Festival juga akan diselenggarakan lagi di bulan Maret 2022 mendatang. Duh, jadi ingin datang ke acara-acaranya.
Adelaide Fringe Festival

Adelaide Fringe Festival juga merupakan salah satu festival seni terbesar di South Australia yang diselenggarakan di musim panas (Februari - Maret). Festival ini biasanya berlangsung selama 1 bulan dan sudah eksis sejak tahun 1960.
Festival diselenggarakan baik indoor maupun outdoor. Acara Adelaide Fringe Festival ini bervariasi, dari berbagai pertunjukan seni dan musik, workshop seni, sampai pertunjukan akrobat dan berbagai jenis permainan, baik berbayar maupun gratis.
Di tahun 2008 saya sempat mampir ke Adelaide Fringe Festival yang diselenggarakan di Rymill Park. Berhubung sudah 13 tahun yang lalu, saya sudah lupa performance apa saja yang saya tonton saat itu. Sepertinya saya sempat menonton tarian dari Eropa Timur yang dibawakan oleh anak-anak. Memang, tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa tampil sebagai pengisi acara dan menikmati festival ini. Juga ada berbagai wahana permainan yang bisa dinaiki seperti komidi putar, serta kios-kios yang menjual makanan.

Saya juga ingat kalau saya foto-foto di salah satu instalasi seni Adelaide Fringe yang berbentuk seperti bubble-bubble raksasa transparan dengan aksen cat warna-warni yang menggambarkan wajah, taman bunga, dll. Senang deh kalau ingat masa-masa itu. The good old days...

Indofest
Komunitas Indonesia di Adelaide, Australian-Indonesian Association of South Australia (AIASA) dan Persatuan Pelajar Indonesia-Australia cabang South Australia (PPIA-SA) juga biasanya bekerja sama menyelenggarakan Indofest. Festival satu hari ini berisi pertunjukan seni dan tari-tarian khas Indonesia, misalnya tari Saman dan tari Pendet, juga stand-stand makanan dan cinderamata khas Indonesia.
Di Indofest 2007 saya dan beberapa teman iseng mencoba berjualan makanan. Tetapi di Indofest 2008 saya malas ribet dan memilih untuk menikmati festival dan jadi pengunjung saja. Tidak menjadi pengisi acara, tidak menjadi pengisi stand, apalagi panitia, hehe...
Tapiiii, ternyata di Indofest 2008 KBRI membuka layanan imigrasi untuk lapor diri bagi orang-orang Indonesia yang baru datang ke Australia. Berhubung kawan-kawan saya banyak yang merupakan pegawai kantor Imigrasi yang sedang menjadi mahasiswa S2 di Adelaide, maka adanya acara lapor diri sama dengan hari bekerja untuk mereka. Saya? Terpaksa jadi kurir go-food, antri sana-sini untuk membelikan kopi, makan siang, dan berbagai makanan/minuman lain untuk mereka yang sibuk bekerja. Nasib, hehe... Gagal deh cita-cita jadi pengunjung biasa yang "santai".
Oh ya, hingga kini Indofest masih eksis, lho! Bangga deh budaya Indonesia berkibar setiap tahunnya di Adelaide. Big applause untuk AIASA!

OzAsia Festival
Salah satu festival andalan Adelaide lainnya adalah OzAsia Festival. Festival pertunjukkan musik dan tari, teater, visual art, film, literatur dan kuliner ini biasanya berlangsung selama sekitar 2-3 minggu di bulan Oktober, di musim semi Australia. Fokusnya tentu saja menampilkan seniman-seniman Australia dan Asia.
Di OzAsia Festival tahun 2008 seniman Indonesia Heri Dono menampilkan pameran instalasi karyanya yang berjudul "Ose Tara Lia - I see Nothing". Seniman Indonesia lainnya, Jumadi, juga memamerkan dan mendemonstrasikan cara membuat wayang rumput. Sekaligus terkadang melakukan pertunjukan storytelling dari wayang rumput.
Yang paling menarik, Heri Dono, Jumadi, dan seniman-seniman Indigenous Australia berkolaborasi melakukan pertunjukan wayang rumput dan gamelan yang berpadu dengan tarian dan pertunjukan didjeridu - alat musik Aborigin. Temanya tentu saja nyerempet dengan politik. Sayangnya saya berhalangan hadir di pertunjukan tersebut.
Oh ya, salah satu acara puncak OzAsia Festival adalah Moon Lantern Festival. Acara gratis ini biasanya berlangsung senja hingga malam hari di taman terbuka, dan menampilkan parade lampion. Cantik banget! Beberapa pengunjung bahkan niat datang memakai kimono. Mungkin agar aura festival musim semi nya lebih terasa seperti di Asia Timur?

South Australia History Festival
Sebagai history geek, festival yang diselenggarakan setiap bulan Mei ini merupakan salah satu favorit saya juga! Acara SA History Festival ini sangat variatif dan tersebar di berbagai museum serta bangunan-bangunan tua dan bersejarah di South Australia.
Selain berbagai pameran temporer di museum-museum, ada acara open door, yakni bangunan-bangunan bersejarah yang biasanya tidak dibuka untuk umum jadi bisa dikunjungi. Ada tur dan workshop untuk keluarga, bahkan ada acara after dark.
Acaranya pun tidak monoton. Ada lho historical talks yang bertempat di hotel dan bar-bar tua yang menceritakan tentang sejarah hotel dan bar tersebut. Ada pula ghost tour di Adelaide Gaol, penjara tua yang diyakini berhantu. Pokoknya, belajar sejarah jadi tidak membosankan.
Salah satu event after dark yang saya ikuti di tahun 2008 dalam rangka SA History Festival adalah candle light tour di Ayers House Museum. Saya dan teman-teman serta beberapa peserta tur lainnya seakan-akan dibawa kembali ke abad 19 dan menjadi tamu di rumah keluarga Ayers.
Kami diajak berkeliling rumah oleh para pelayan keluarga Ayers menggunakan penerangan lilin, sambil dijelaskan beberapa fakta sejarah terkait kehidupan (dan rumah) keluarga Ayers. Tur nya seru banget, ada adegan memarahi pelayan kikuk yang menjatuhkan barang, ada adegan lari-lari ke dapur, hingga adegan koki yang memukul-mukul tikus (bohongan tentunya). Terakhir, kami dibawa melihat ruang pesta keluarga Ayers yang memiliki teknologi terbaru kala itu: lampu! Tur pun berakhir dan kami kemudian dibawa kembali ke masa kini.

Christmas Pageant
Ini juga festival kesukaan saya! Sebenarnya nama resminya adalah National Pharmacies Christmas Pageant. National Pharmacies adalah sponsor utama acara pawai Natal yang sudah berlangsung sejak tahun 1933 ini. Acaranya biasanya berlangsung di hari sabtu ke-2 di bulan November. Apa serunya? Tentu saja karena pawainya berlangsung di jalan-jalan utama Adelaide (yang ditutup hari itu khusus untuk pawai). Kapan lagi kan kita bisa lihat pawai lalu boleh coret-coret jalanan kota dengan kapur setelah pawai selesai? Kendaraan pawainya juga biasanya keren-keren.


Sebetulnya, Christmas Pageant ini bukan satu-satunya acara pawai di Adelaide. Setiap tanggal 26 Januari ada pula acara Australia Day. Namun, setiap Januari saya biasanya ada di Jakarta karena lagi liburan musim panas. Jadi saya selalu absen di acara Australia Day.
Selain festival-festival yang saya ceritakan ini, masih banyak lagi festival lainnya yang diselenggarakan di Adelaide. Ada acara maraton, festival gitar, festival cabaret, SALA Festival (South Australian Living Artists), WOMAdelaide, dan lainnya. Namun, satu festival yang saya penasaran adalah Tarnanthi Festival.
Tarnanthi Festival pertama kali diselenggarakan tahun 2012, jadi saya sama sekali belum pernah datang ke festival ini. Tarnanthi Festival adalah festival yang khusus mengangkat kebudayaan first nation Australians alias Aborigin atau Indigenous Australian. Berisi pertunjukan tari-tarian dengan alunan musik didjeridu, storytelling cerita-cerita mitologi dreaming Indigenous Australian, hingga perpaduan pertunjukan seni yang lebih kontemporer. Seru sepertinya ya! Jadi ingin menghadiri festivalnya.
Demikian cerita saya tentang Adelaide si kota festival. Satu hal yang terbersit ketika menulis post ini: rindu! Saya kangen tinggal di Adelaide, kota kecil yang selalu banyak acara seni, budaya dan sejarah untuk di nikmati... Walaupun sebentar, beruntung sekali saya pernah tinggal di Adelaide.



Komentar