Utrecht: Free Walking Tour
- Ajeng Araini-Kusno

- 11 Mar 2017
- 7 menit membaca
Diperbarui: 25 Jul 2021

Selama 5 bulan tinggal di Belanda saya sering sekali transit kereta di Stasiun Utrecht Centraal tapi belum pernah benar-benar keluar dari stasiunnya. Jadi, di suatu hari minggu yang cerah saya dan dua teman memutuskan untuk 'nuris' ke Utrecht, salah satu kota tertua dan terbesar di Belanda. Setiap hari minggu di Utrecht ada free walking tour yang dimulai pukul 2 siang dari depan Domtoren, landmark kota Utrecht. FYI, di Belanda cuaca sangat mudah berubah. Pagi yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung dan hujan di saat kami memulai tur. Jadi, ketika di Krakow saya ikut Free [Jewish] Walking Tour ditengah hujan salju, di Utrecht saya ikut tur di tengah hujan air hehe. Tapi karena ikut free walking tour sangat menyenangkan bagi saya, maka air dan salju tidak menghalangi kegembiraan, halah!
Kami tiba tepat ketika tur nya baru dimulai. Ketika kami bergabung sang pemandu sedang menjelaskan mengenai kota Utrecht yang dulunya adalah Roman city. Domplein (Dom Square) tempat kami berdiri saat itu adalah situs dimana benteng kota Romawi tersebut (saat itu namanya Traiectum) berada. Batas benteng Romawinya ditandai dengan plat besi di antara cobblestone yang kami injak.

Batas benteng kota Romawi kuno di Utrecht
Di masa kemudian Utrecht pun berkembang menjadi kota yang religius. Di abad 13 Gereja Gothic terbesar di Belanda bernama Domkerk (Dom Church) didirikan di area yang tadinya benteng kota Romawi. Gereja tersebut memiliki menara (Domtoren) yang tingginya 112 meter, menara gereja tertinggi di Belanda. Tahun 1674 kota Utrecht terkena tornado. Sebagian bangunan gereja runtuh! Bagian gereja yang runtuh tersebut tidak pernah di renovasi ataupun di rekonstruksi. Kini, Domkerk (Dom Church) dan Domtoren (Dom Tower) tetap berdiri tegak, namun menjadi dua bangunan yang terpisah. Bagian tengah gereja yang runtuh kini menjadi Domplein atau Domsquare yang berada di antara Domtoren dan Domkerk.

Exterior Domkerk / Dom Church
Photo courtesy of Ixora Adisti

Interior Domkerk / Dom Church
Ada cerita menarik lainnya mengenai Domtoren yang legendaris ini. Selain berfungsi sebagai menara lonceng gereja Domtoren juga berfungsi sebagai private chapel nya Bishop, menara pengawas (menara pandang) dan rumah penjaga menara. Pernah di suatu era ada seorang penjaga menara yang merasa bosan dengan pekerjaannya dan menginginkan tambahan penghasilan. Ia pun meminta izin kepada Bishop untuk memiliki 'usaha sampingan'. Bishop mengizinkan dengan syarat sang penjaga tetap bisa 'stand by' sebagai penjaga menara dan Chapel sang Bishop di lantai 1 serta pintu keluar masuknya tidak terganggu. Penjaga menara pun tidak kehabisan akal. Ia akhirnya membuka bar di lantai 2 menara, dengan pintu keluar/masuk adalah tangga tali yang menggantung dari jendela lantai 2! Kreatif juga ya? Hehe.. Nah, urusan pelanggan bar naik ke menara biasanya tidak pernah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika mereka harus menuruni tangga tali dalam keadaan mabuk! Ternyata warga Utrecht tidak kehabisan akal. Penduduk di daerah sekitar menara berbaik hati menyediakan kasur di bagian bawah menara apabila mereka melihat ada pelanggan mabuk yang sedang kesulitan menuruni tangga menara. Haha, entah kenapa saat mendengar cerita ini saya jadi memvisualisasikannya dalam adegan film kartun.

Domtoren, landmark kota Utrecht
Oya, penduduk Utrecht juga biasa disebut dengan Utrechter atau Utrechtenaar. Tapi, did you know that zaman dulu kata Utrechtenaar konotasinya jelek? Dulu sebutan Utrechtenaar identik dengan sebutan bagi kaum homoseksual yang pernah dijatuhi hukuman di Domplein. Dulu Belanda belum seterbuka sekarang dengan isyu LGBTQ (ya iyalah!).
Dari Domplein tur berlanjut dengan pemberhentian berikutnya adalah taman diantara bangunan gereja dengan Gedung Academiegebouw (gedung rektorat) nya Universiteit Utrecht (Utrecht University). Disini pemandu menceritakan mengenai tradisi acara Dies Natalis Utrecht University yang biasa diselenggarakan di gereja. Oya, ada tradisi juga di antara mahasiswa Utrecht kalau mereka harus berenang di kanal Utrecht paling tidak 1x selama mereka menjadi mahasiswa! Iiiiuuhh... Siapa yang (mau jadi) mahasiswa Utrecht? Hayoo looh...

Ornamen air mancur di taman dalam antara Domkerk dan Academicgebouw Universiteit Utrecht
Photo Courtesy of Ixora Adisti

Academicgebouw Universiteit Utrecht
Kami lalu mendatangi patung Pope Adrian VI dari Utrecht. Pope Adrian VI adalah satu-satunya Pope yang berasal dari Belanda. Tahun 1522 saat ia pertama tiba di Roma sebagai Pope ia disambut dengan pesta meriah. Pope segera saja membubarkan acara pesta tersebut. Budaya Roma yang 'penuh pesta' saat itu berbeda sekali dengan tradisi di Belanda yang lebih 'agamis'. Pope Adrian VI kemudian banyak melakukan perombakan tradisi dan melakukan penghematan. Misalnya ia memecat semua 'pegawai pribadi' yang merupakan priviledge nya sebagai Pope karena menurutnya hal tersebut menghambur-hamburkan uang (emang sih orang Belanda 'irit' hehe). Ia bahkan hampir mengecat putih lukisan Michelangelo di Sistine Chapel karena walaupun temanya religi tetapi banyak menampilkan nudity yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Untung gak jadi ya! Hehe. Anyway, Pope Adrian VI hanya menjabat sebagai Pope di Roma selama kurang lebih 1 tahun karena ia meninggal tahun 1523. Konon katanya setiap Pope yang meninggal akan diselidiki penyebabnya, tapi penyebab kematian Pope Adrian VI tidak diselidiki karena alasan penghematan. Atau jangan-jangan karena ada 'alasan' lain? Who knows :D Yang jelas Pope Adrian VI adalah alasan tidak adanya Pope yang berasal dari luar Italia hingga tahun 1978!

Patung Pope Adrian VI
Tidak jauh dari patung Pope Adrian VI kami pun tiba di jalanan kecil tempat tinggal Wilhelm Rontgen, penemu x-ray. Rontgen bersekolah di Utrecht tetapi dia di keluarkan dari sekolah saat SMA. Di Belanda (di abad 19) kalau seseorang sudah dikeluarkan dari sekolah maka ia tidak bisa lagi diterima di sekolah lain di manapun. Ini berarti tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Rontgen akhirnya meneruskan pendidikannya di Swiss dan menjadi ahli fisika di universitas-universitas di Jerman. Sebagai penemu x-ray ia mendapatkan hadiah Nobel di bidang fisika. Ia bahkan berbaik hati tidak mempatenkan x-ray agar teknologi tersebut bisa digunakan di rumah sakit manapun. Kini orang Utrecht (yang menyesal karena 'kehilangan tokoh penting') melukiskan mural foto Wilhelm Rontgen dan foto hasil x-ray pertamanya di dinding jalan bekas rumah tempat tinggal beliau semasa di Utrecht.

Mural foto Wilhelm Rontgen dan hasil x-ray pertamanya
Dari rumah Wilhelm Rontgen kami pun berhenti di dekat sebuah bukit kecil. Bukit merupakan pemandangan yang cukup tidak lazim di Belanda. FYI, tanah Belanda sangat datar dan normalnya tidak ada bukit! Jadi, bukit apakah ini? Yup! Ini bukit bohongan. Kisahnya dimulai di abad 17 ketika saat itu wanita tidak boleh bekerja. Saat itu wanita yang bekerja hanyalah prostitute. Jadi, apa kabar kalau wanita baik-baik jadi janda? Ya terlantar. Kan tidak boleh kerja. Nah, saat itu ada orang bernama Brunt yang berbaik hati membeli rumah dipinggir tembok kota dan rumahnya diperuntukan sebagai penampungan janda-janda terlantar. Seiring berkembangnya kota Utrecht, di abad 19 banyak orang-orang kaya yang akhirnya tinggal di luar tembok kota, di sisi sebrang sungai (kanal) dan menjadikan daerah tersebut sebagai daerah elit. Mereka sering protes mengenai pemandangan tembok kota di seberang kanal yang terlihat tua dan tidak indah dipandang. Akhirnya tembok kota diruntuhkan. Namun, mereka kemudian protes lagi karena pemandangan mereka adalah rumah penampungan janda-janda yang didirikan oleh Brunt (yang masih tetap eksis). Akhirnya di depan rumah tersebut dibuatlah bukit buatan dan vila di atas bukit untuk menghalangi 'pemandangan kurang sedap' dan memuaskan hati para orang kaya tersebut. Seakan-akan mereka benar-benar berada di daerah elit karena ada bukit dengan vila di atasnya. Cape deh!

Bekas rumah penampungan bagi janda terlantar yang didirikan oleh Brunt. Nama Brunt menjadi nama jalannya

The fake hill and the villa :)
Kami kemudian menyusuri sungai dan melihat sedikit bagian dari tembok kota yang masih tersisa. Tembok tersebut dijadikan tembok halaman bagi bangunan observatorium tua (Sterrenwacht) yang kini sudah tidak difungsikan lagi. Dari sana, titik perhentian selanjutnya adalah patung seekor anjing besar bernama Biru! Alkisah di tahun 1980-an ada seekor anjing Chow besar bernama Biru yang tinggal di salah satu rumah di dekat jembatan. Biru hobi banget tidur-tiduran di tengah jembatan dekat rumahnya. Kalau Biru (yang bobotnya sekitar 120 kg) sudah tiduran di jembatan maka tidak ada yang bisa membuatnya pindah tempat kecuali pemiliknya menyalakan mesin mobil (dengan alasan Biru gak mau ditinggal pemiliknya pergi). Tentu saja hobi Biru ini menyusahkan warga kota Utrecht, terutama polisi dan pemadam kebakaran. Namun semua orang sayang Biru. Jadi ketika Biru mati warga sekitar patungan untuk mengabadikan Biru dalam bentuk patung seukuran aslinya di taman di dekat jembatan favoritnya.

Biru the chow dog!
Setelah dari patung nya si Biru kami pun berhenti di depan Museum Nijntje. Nijntje atau Miffy adalah tokoh kelinci karya Dick Bruna (1927-2017) yang sangat terkenal seantero Belanda (dan bahkan dunia). Tokoh dan kisah Nijntje yang diciptakan sejak tahun 1950-an biasanya menghiasi hari-hari masa kecil anak-anak Belanda. Oleh karena Dick Bruna adalah orang Utrecht maka dibuatlah Museum Nijntje di Utrecht. Nijntje (Dick Bruna) pun pernah sempat heboh 'berseteru' dengan Hello Kitty (Sanrio) terkait hak cipta. Kini museumnya yang terletak di sebrang Utrecht Centraal Museum menjadi surga dunia (indoor playground) bagi anak-anak kecil.

Museum Nijntje
Walking tour yang berdurasi sekitar 3 jam biasanya diselingi dengan istirahat di cafe sebentar untuk beli kopi/teh atau coklat hangat (atau bahkan es krim!). Dari Museum Nijntje kami berhenti sejenak untuk beristirahat, mengeringkan dan menghangatkan diri dari hujan yang cukup awet! Lalu kami melanjutkan lagi perjalanan dan berhenti di sisi kanal.

Kanal @ Utrecht
Kanal di Utrecht agak berbeda dengan kanal di kota-kota lain di Belanda. Di kota lain, kanal biasanya terletak sejajar dengan jalan raya. Di Utrecht kanalnya berada jauh lebih rendah di bawah jalan raya. Ternyata hal ini disebabkan karena awalnya kanal tersebut adalah Sungai Rhine! Secara natural sungai biasanya memang terletak agak lebih rendah dan punya bantaran sungai yang sewaktu-waktu dapat banjir. Namun, setelah Sungai Rhine ini dijadikan kanal maka banjir dapat dikontrol dan bantaran sungainya pun menjadi lahan kosong yang 'menganggur'. Penduduk Utrecht pun kemudian membangun rumah, cafe, gudang, bahkan pabrik bir di bantaran sungai ini! Pabrik bir? Yup! Belanda pernah mengalami masa dimana minum bir lebih 'higienis' daripada minum air biasa yang penuh dengan kuman dan bakteri sehingga bir menjadi minuman sehari-hari termasuk untuk anak-anak!

Pabrik bir (brewery) di tepi kanal yang dulunya merupakan bantaran sungai

Tepi kanal Utrecht yang difungsikan menajdi berbagai bangunan rumah, gudang atau cafe
Oya, Utrecht juga lagi berusaha membuat sejarah. Mereka sedang dalam proyek 'menulis' puisi di jalanan kota Utrecht yang huruf-hurufnya diukir di batu yang diletakan di tepi jalan. Satu batu berhuruf (batu baru) diletakan setiap hari sabtu. Jadi, proyek puisi ini baru akan selesai sekitar tahun 2100! Individu, pasangan, atau keluarga pun bisa 'mengadopsi' batu. Maksudnya, dengan membayar 100 Euro (kalau tidak salah ingat) untuk satu batu berhuruf yang akan dipasang, nanti nama yang mengadopsi akan diukir di sisi batu tersebut (sisi samping yang tertanam di tanah dan tak bisa terbaca dari sisi atas). Namun, nama-nama yang mengadopsi batu bisa dilihat di website. Tertarik untuk mengadopsi satu batu?

Proyek puisi di jalanan kota Utrecht yang masih berlangsung dan baru dapat diselesaikan jauh di masa depan!
Pemberhentian terakhir tur ini adalah di halaman Balai Kota Utrecht (stadhuis). Balai kota ini pernah menjadi tempat Inggris dan Perancis menandatangani perjanjian perdamaian perang di abad 18 (Queen Anne's War). Mengapa perjanjiannya dilakukan di Utrecht? Karena pihak Inggris tidak mau kalau harus datang ke Paris dan Perancis juga tidak mau kalau harus datang ke London sehingga pilihan tempat perjanjiannya jatuh ke Belanda. Kenapa harus di city hall Utrecht? Karena bangunan ini memiliki pintu depan dan pintu belakang. Jadi kedua belah pihak dapat masuk secara bersamaan. Duh, rempong ya!

Stadhuis Utrecht
Whoaa, ternyata panjang juga yaa cerita dari walking tour selama 3 jam! Ini aja baru sejarah di daerah kota tua Utrecht. Di Utrecht ada daerah yang lebih modern namanya Lombok (Yup! Namanya diambil dari Pulau Lombok di Indonesia) yang juga punya free theme walking tour sendiri. Kapan-kapan saya sambung lagi ceritanya dengan Lombok tour ya! Daag!



Komentar