Krakow: Free [Jewish] Walking Tour
- Ajeng Araini-Kusno

- 20 Feb 2017
- 6 menit membaca
Diperbarui: 25 Jul 2021

Photo courtesy of: Alqiz Lukman
Setelah saya dan travelmate saya mengikuti free communist walking tour di Bratislava, Slovakia, kami jadi ketagihan ikut theme walking tour lagi. Kebetulan di Krakow, Polandia, ada yang temanya Jewish tour. So, we're definitely in! Di Krakow kami sudah sengaja pilih hostel di dekat area kota tua Krakow biar dekat sama titik tempat ngumpul untuk regular walking tour, eh ternyata spot 'ngumpul' nya free Jewish walking tour ini di Old Jewish Quarter di distrik Kazimierz, agak jauh jadinya dari kota tua Krakow. Jadi, pagi itu kami berjalan cukup jauh dengan sedikit terburu-buru di sela-sela hujan salju di bulan Januari, sambil berharap-harap cemas. Cemas karena berharap moga-moga tur nya tetap ada walaupun sedang hujan salju, dan cemas ketinggalan tur! Untungnya kami tiba tepat waktu dan tur ternyata tetap dilaksanakan walau seperti apapun juga cuacanya!

Ania (baca: Anya), pemandu tur kami, menunggu di dekat Old Synagogue Kazimierz. Ania menjelaskan bahwa bangsa Yahudi sudah menetap di Polandia sejak abad 14 karena diberikan perlindungan oleh penguasa setempat saat itu. Mereka kemudian mulai menetap di Kazimierz. Saat itu Kazimierz masih merupakan kota sendiri yang terpisah dari Krakow. Bangsa Yahudi yang menetap di Kazimierz pun mulai membangun sinagog.

Old Synagoge, Old Jewish Quarter, Kazimierz, Krakow, Poland
Sinagog ini merupakan yang tertua. Awalnya hanya berupa bangunan bata merah di bagian belakang untuk tempat ibadah pria. Kemudian karena jemaah nya bertambah banyak maka dibangun juga bangunan tambahan untuk tempat ibadah wanita. Sinagognya juga dibangun sedikit lebih rendah dari permukaan tanah karena pada masa itu bangunan sinagog tidak boleh lebih tinggi dari gereja. Kini Old Synagogue tersebut sudah menjadi museum dan tidak lagi diperuntukkan sebagai rumah ibadah.

Popper Synagogue
Di Kazimierz Ania berhenti di depan beberapa sinagog dan menceritakan sejarahnya. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah Sinagog Popper. Alkisah Wolf Popper sedang mencari calon suami untuk anak perempuannya yang buruk rupa. Ia kemudian membangun sinagog dan menjanjikan kepada siapapun yang mau menjadi suami untuk anaknya maka sinagognya akan diberi nama seperti nama pria tersebut. Sedihnya, hingga kini nama sinagognya tetap Popper. Jadi, bisa menyimpulkan sendiri ya kelanjutan kisah sayembara Wolf Popper mencari calon suami untuk anaknya? :(
Oya girls, pernah dengar nama Helena Rubinstein? Yup! Merek kosmetik. Nah, Helena Rubinstein, sang founder perusahaan kosmetik tersebut ternyata lahir di Kazimierz lho! Kebalikannya dengan anak perempuan Wolf Popper, Helena sangat cantik sehingga banyak pria-pria Yahudi ingin mempersuntingnya. Namun ternyata pujaan hatinya bukan pria Yahudi. Helena pun pergi meninggalkan keluarganya ke Australia karena ia tidak ingin dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria yang tidak dicintainya. Di Australia orang-orang ternyata memuji kecantikannya dan menanyakan rahasia kecantikannya. Rahasianya adalah ia memakai krim wajah "resep" ibunya dan ia pun dapat membuatnya. Oleh sebab itu Helena mulai membuat dan menjual krim wajahnya. Ternyata ia sukses! Ia bahkan bisa pindah ke New York dan membuka perusahaan kosmetik disana. Satu hal unik dari Helena Rubinstein adalah ia sering berbohong perihal usianya. Jika orang biasanya berbohong dan menyatakan diri lebih muda, Helena selalu berbohong menyatakan dirinya lebih tua! Dengan demikian orang akan berfikir bahwa ia terlihat lebih muda dari umurnya karena produk kosmetiknya! Cerdik?

Isaac Synagogue
Ania kemudian membawa kami ke sinagog lain bernama Isaac Synagogue dan masuk kedalamnya. Isaac Synagoge ini adalah salah satu sinagog Yahudi Ortodok di Krakow. Ania menjelaskan bahwa tempat ibadah perempuan dan laki-laki dipisah. Perempuan di atas dan laki-laki di bawah. Dari atas perempuan dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah, tetapi jemaah lelaki dilarang keras menengok ke atas! Oya, dinding-dinding sinagog ini juga dipenuhi dengan tulisan ayat-ayat sehingga orang yang tidak punya uang untuk membeli kitab suci pun bisa tetap beribadah.

Bagian dalam Isaac Synagogue
Pemberhentian selanjutnya adalah Jewish Community Center. Bangunan ini adalah bangunan baru yang dibangun dengan dana bantuan dari Pangeran Charles (Prince of Wales). Community Center ini merupakan bukti bahwa masih ada lho komunitas Yahudi di Krakow masa kini, walaupun jumlahnya sudah berkurang drastis pasca Perang Dunia II. Community Center ini terutama berguna sekali bagi anak-anak muda yang mau belajar tentang agama dan budaya Yahudi, atau belajar Bahasa Hebrew. Oya, banyak lho orang-orang yang baru tahu kalau mereka Yahudi karena orang tua atau nenek/kakeknya dulu berganti identitas saat Perang Dunia II!

Jewish Community Center
Dari Community Center Ania membawa kami ke sisi lain Old Jewish Quarter di Kazimierz. Menurut Ania, pasca Perang Dunia II daerah ini luluh lantak dan tak terawat. Tidak banyak orang yang mau tinggal di daerah ini hingga akhirnya seniman dan mahasiswa lah yang mulai 'menghuni' lagi tempat tersebut (mungkin karena sewa nya murah ya hehe). Karena banyak mahasiswa dan seniman maka daerah tersebut kemudian berkembang jadi daerah 'nyeni' yang gaul. Banyak cafe, bar, galeri seni, bahkan makanan khas Yahudi dengan harga kantong mahasiswa! Kami pun diperkenankan rehat sebentar di daerah ini. Saya pun penasaran kepingin nyobain Zapiekarki (moga-moga namanya benar hehe), the famous Jewish food sold there. Panganan semacam roti dengan toping jamur, keju mozarella dan saus tomat ini enak bangeet ternyata! Saking enaknya sampe saya berhasil menghabiskan 1 porsinya yang besarnya bak raksasa! Niat awal minta tolong travelmate untuk bantu menghabiskan karena 'jiper' lihat porsinya yang besar gagal karena ternyata saya sanggup menghabiskan nya sendiri! Entah karena memang enak banget, lapar atau rakus ya? Hehe...

Kios tempat jualan makanan Yahudi 'harga mahasiswa'

The food is absolutely delicious, and huge!
Setelah rehat kami pun melanjutkan perjalanan. Pemberhentian berikutnya adalah 'komplek perumahan' Jews yang menjadi tempat syuting film nya Steven Speilberg berjudul 'Schindler's List' (1993). Film ini diangkat dari novel Schindler's Ark yang merupakan kisah nyata mengenai seorang pengusaha Jerman bernama Oscar Schindler yang menyelamatkan 1200 orang Yahudi Polandia dari bantaian tentara NAZI dengan mempekerjakan mereka sebagai pegawai pabriknya. Diperumahan ini dipajang pula foto-foto adegan dari film nya.

Perumahan Yahudi di Kazimierz tempat syuting film Schindler's List (1993) karya Steven Spielberg
Lalu, kami pun menyebrangi jembatan dari Kazimierz meuju ke sisi sebrang sungai, ke Jewish Ghetto. Kehidupan komunitas Yahudi yang aman dan tenteram sejak abad 14 di Polandia berubah drastis sejak tahun 1939 ketika tentara NAZI Jerman menduduki Polandia. Orang Yahudi dipaksa pindah dari Kazimierz ke Jewish Ghetto sebelum akhirnya dibawa ke kamp konsentrasi di Auschwitz-Birkenau atau kamp lain. Awalnya mereka harus meregistrasi diri dan memakai tanda "star david", lalu mereka mulai di diskriminasi. Tidak diperbolehkan naik transportasi publik, dilarang masuk ke tempat-tempat hiburan, bahkan dipermalukan di depan umum dan diperlakukan tidak manusiawi.

Ghetto Heroes Square, Krakow
Kami kemudian berhenti di Ghetto Heroes Square. Dahulu pintu gerbang Jewish Ghetto berada di sisi lapangan ini. Disini ribuan orang Yahudi dari Krakow juga dikumpulkan dan dideportasi ke kamp konsentrasi NAZI yang jauh dari Krakow (bukan ke Auschwitz-Birkenau yang hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Krakow). Perjalanan menuju kamp ditempuh berhari-hari dengan kereta tanpa mereka diberi makan dan minum. Sesampainya di kamp mereka dikelabuhi seakan-akan disuruh membersihkan diri, padahal mereka masuk ke gas chamber dan dibunuh! Kini di lapangan ini terdapat 33 kursi yang melambangkan 20.000 penduduk Ghetto pada masa itu. Satu-satunya penduduk Jewish Ghetto non-Yahudi pada masa itu adalah Tadeusz Pankiewicz pemilik pharmacy. Pankiewicz berhasil meyakinkan tentara Jerman kalau apotek nya diwilayah itu dibutuhkan oleh tentara Jerman. Padahal diam-diam ia membantu orang Yahudi dengan memberikan obat gratis dan memalsukan dokumen agar mereka bisa keluar Polandia. Kini apotek nya dijadikan museum!

Schindler's Factory Museum, Krakow
Free Jewish Walking Tour ini berakhir di depan Schindler's Factory. Di pabrik ini lah dahulu Oscar Schindler berhasil menyelamatkan 1200 orang pekerja Yahudinya dari pembantaian tentara NAZI. Walaupun ia juga harus 'menyuap' tentara NAZI untuk berbagai izin terkait pekerja pabriknya. Kini pabriknya telah dijadikan museum. Setelah tur gratis selesai, Ania, pemandu kami, punya program tur berbayar (opsional) untuk masuk ke dalam Schindler's Factory Museum ini. Berhubung travelmate saya ngefans banget sama film Schindler's List jadilah kami ikut tur museum juga.

Ruang kerja Oscar Schindler di Schindler's Factory Museum, Krakow
Schindler's Factory Museum ini tidak hanya menceritakan mengenai pabriknya Oscar Schindler dan para pekerja yang diselamatkannya, tetapi lebih ke bagaimana sejarah dan kehidupan sosial bangsa Yahudi di Krakow pada era pendudukan tentara Jerman. Desain interior museumnya juga keren abis sampai sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata! Tapi bagian favorit saya di museum ini adalah ruang kerja Oscar Schindler yang dipertahankan seperti aslinya. Saya juga suka sekali dengan akhir alur pameran di museum ini yang ditutup dengan lukisan Stalin berukuran besar. Menandakan berakhirnya masa pendudukan Jerman tetapi dimulainya masa pendudukan Uni Soviet di Polandia. Namun, cerita mengenai kehidupan di rezim komunis tersebut bukan bagian dari alur cerita Schindler's Factory Museum ini! And the story of the free Jewish walking tour also ends here. Selesai tur saya merasa banyak sekali dapat pelajaran sejarah, dan saya hanya bisa berharap semoga sejarah kelam ini tidak akan pernah berulang dimanapun untuk siapapun!

Stalin at the end of the tour!



Komentar