Rotterdam: Kota Bagi Pencinta Arsitektur
- Ajeng Araini-Kusno

- 11 Des 2016
- 3 menit membaca
Diperbarui: 18 Des 2023

Rotterdam, kota pelabuhan terbesar di Eropa yang terkenal dengan sebutan "gate to Europe" atau "Europe's gate to the World", agak berbeda dengan kota-kota di Belanda pada umumnya, terutama dari segi arsitektur. Apabila kota-kota Belanda identik dengan bangunan-bangunan tua, Rotterdam justru identik dengan arsitektur modern. Tahun 1940 di kala Perang Dunia ke-2, pusat kota Rotterdam luluh lantah karena di bom oleh Jerman (Rotterdam Blitz). Pemerintah kota Rotterdam kemudian memutuskan untuk tidak merekonstruksi kota Rotterdam seperti sedia kala, melainkan membangun kota Rotterdam dengan arsitektur modern dengan moto "light, air and space". Arsitek-arsitek kaliber pun "berkarya" di Rotterdam. Hasilnya, kini Rotterdam menjadi "city of architecture".
Stasiun Rotterdam Centraal dan Erasmusbrug (Erasmus Bridge) merupakan salah satu ikon kota Rotterdam. Begitu pula dengan the cube houses dan De Markthal.

The cube houses ini didesain oleh arsitek terkenal Piet Blom di dekade 1970an. Rumah-rumah ini benar-benar dihuni sebagai tempat tinggal penduduk Rotterdam lho! Tapii, kalau penasaran seperti apa sih kira-kira interior bagian dalamnya, kita bisa kok masuk ke museumnya (namanya Kijk-Kubus) dengan bayar 3 Euro.

Bertandang ke Rotterdam juga belum afdol kalau tidak mampir ke De Markthal. De Markthal merupakan salah satu arsitektur masterpiece Rotterdam dari era 1990an berupa pasar indoor, berada di dalam bangunan berbentuk seperti tapal kuda yang juga berfungsi sebagai apartemen. Sisi atap bagian dalam De Markthal dihiasi dengan karya seni berjudul 'Horn of Plenty' karya seniman Arno Coenen dan Iris Roskam. 'Pasar cantik' De Markthal ini berisi kios-kios pedagang yang berjualan aneka makanan, restaurant, dan supermarket.
Makanan Indonesia juga ada lho di De Markthal. Ada kios yang berjualan berbagai makanan Indonesia seperti sate, siomay, mpek-mpek dan soto. Di supermarket (Chinese Supermarket), brand makanan Indonesia seperti Pop Mie, Indomie, agar-agar Swallow sampai soda kue cap Koepoe-Koepoe tersedia lengkap! Bahkan, ada satu kios yang khusus jualan sambal! Dari sambal rudjak, sambal tomat, sambal terasi, sampai sambal setan semuanya komplit! Pengunjung bisa icip-icip sambalnya dengan mencocol kerupuk yang disediakan. Surga dunia pokoknya bagi pencinta sambal.
Hmm, masa jauh-jauh ke Belanda masih makan masakan Indonesia juga? Oke, kalau begitu silahkan cicipi masakannya celebrity chef Jamie Oliver! Yup! Jamie punya restaurant pasta di De Markthal namanya Jamie's Italian. Rasanya masakannya juara! Kisaran harga main course nya sekitar 20 Euro. Tidak mahal untuk ukuran restaurant di Eropa, asal jangan di kurs ke Rupiah, hehe...

Oya, kalau ke Rotterdam sama anak-anak, coba mampir deh ke Maritiem Museum. Museumnya ramah anak banget. Seruu.. Beda sekali dengan museum di Indonesia pada umumnya. Disini anak-anak bisa puas main sambil belajar tentang sejarah maritim dan kota pelabuhan Rotterdam, sementara orang tuanya juga senang melihat exterior dan interior museum yang keren.

Memang sih HTM museum di Belanda agak mahal, berkisar sekitar 10 Euro untuk orang dewasa. Tapi harga tiket untuk anak kecil biasanya lebih murah, ada juga yang bahkan gratis. Cek juga apa ada harga diskon untuk pelajar dan mahasiswa, karena biasanya tidak ditulis di papan informasi tapi kalau ditanya tersedia dan di diskon. Jadi, kalau memang suka museum dan/atau arsitektur, jangan lupa mampir juga ke Netherlands Architecture Institute.
Bagi arsitektur aficionado, kota Rotterdam memang destinasi wisata yang pas. Apalagi Rotterdam dinobatkan sebagai "European City of the Year 2015" oleh Academy of Urbanism, dan menduduki rangking 5 dalam Lonely Planet "Top 10 Cities to Visit Best in Travel 2016". Banyak spot di kota Rotterdam yang bisa dijadikan latar belakang untuk hunting (atau sebagai background untuk) foto-foto 'cantik', hehhe...



Komentar