Kamboja & Vietnam: Memori Honeymoon
- Ajeng Araini-Kusno

- 10 Agu 2021
- 8 menit membaca
Diperbarui: 25 Sep 2021

Mumpung bulan Agustus dan kami sedang merayakan 12 tahun ulang tahun pernikahan, rasanya jadi ingin recall ulang memori saat kami honeymoon alias berbulan madu ke Kamboja dan Vietnam dulu...
Agustus 2009 saya dan suami, sebagai newlyweds, terbang ke Singapura untuk berbulan madu. Lho? Kok Singapura? Katanya Kamboja dan Vietnam? Yup! Kala itu belum ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Siem Reap, Ho Chi Minh City atau Hanoi. Jadi, mau tidak mau kami harus melewati Singapura.
Sebagai pasangan geek, tentunya 1 hari transit di Singapura kami habiskan dengan berjalan-jalan ke museum. Berhubung kami menginap di YMCA Hotel di ujung Orchard Road dekat Dhobby Ghaut, maka museum pilihan jatuh ke Peranakan Museum di Armenian Street dan Singapore Phillatelic Museum di dekatnya yang dapat kami tempuh dengan berjalan kaki.
Kedua museum tersebut pastinya keren, tapi, kalau bahas museum, nanti tidak cukup satu postingan ini hehe.. Jadi, langsung saja ya ceritanya "loncat" ke Kamboja. Museum-museumnya cukup diceritakan lewat foto saja ya, hehe...




Siem Reap
Keesokan harinya, setibanya kami di bandara Siem Reap, kami langsung dijemput tuktuk, semacam becak bermotor, untuk menuju Golden Banana Boutique Hotel di pusat kota Siem Reap. Sepertinya interior hotel ini paling keren selama kami berbulan madu. Oh ya, tuktuk ini kemudian juga menjadi kendaraan andalan kami untuk keliling kota.
Sebenarnya, secara fisik orang Kamboja dan Indonesia sangat mirip. Kami sering sekali diajak ngomong Bahasa Khmer. Tentunya saya dan suami sama-sama zonk kalau harus bicara Bahasa Khmer. Pengemudi tuktuk kami sampai berkomentar, "Kalau kalian tidak ditanya apa-apa di area tiket masuk (Angkor), sebenarnya kalian bisa saja masuk gratis lho!" Sayangnya kami tidak "seberuntung" itu, hehe.. Masuk area Angkor memang gratis untuk warga lokal, tetapi cukup mahal (dan di charge dalam Dollar Amerika) untuk orang asing.
Tentu saja tujuan utama kami ke Siem Reap adalah Angkor. Namun, kami memutuskan untuk menjelajahi Angkor Thom dulu dibandingkan dengan Angkor Wat. Wait, apa bedanya? Angkor Thom ini adalah ibukota yang dibangun oleh Raja Jayavarman VII sekitar abad 12 M. Luasnya sekitar 9 km persegi. Terdiri atas beberapa candi, reruntuhan istana raja, dan bangunan-bangunan lainnya.

Kota Angkor Thom dikelilingi pagar keliling, dan di dekat pintu-pintu masuknya ada arca-arca dewa dan raksasa yang sedang mengaduk lautan susu untuk mendapatkan air amerta atau air keabadian. Arca-arca ini berpusat di Candi Bayon, candi utama (candi Buddha) di Angkor Thom. Candi ini dipenuhi pahatan wajah-wajah berukuran besar. Kalau saya tidak salah ingat, menurut dosen saya, wajah-wajah ini merupakan wajah Jayavarman VII (dan pejabat-pejabat kerajaannya) yang seakan-akan melihat keseluruh penjuru negerinya. Ngeri!

Selain ke Candi Bayon kami juga mendatangi beberapa candi lain, reruntuhan istana, dan teras gajah-gajah (terrace of the elephants). Bangunan semacam panggung sepanjang 350 meter ini sebetulnya merupakan bagian dari tembok kota dan tembok istana. Bangunan ini berfungsi sebagai podium tempat raja berdiri kalau ada acara publik. Atau bahkan untuk menyambut pasukannya yang pulang setelah menang perang. Kenapa namanya teras gajah-gajah? Ya karena memang ada ukir-ukiran relief berbentuk gajah di "panggung" tersebut.

Keesokan hari nya, kami sudah stand by di Angkor Wat bahkan sebelum fajar menyingsing. Suami saya ingin memotret matahari terbit di Angkor Wat. Sayangnya pagi itu mendung dan berawan. Matahari terbit sama sekali tidak terlihat, tiba-tiba saja hari sudah terang. Akhirnya saya saja yang jadi model dadakan hehe..

Berbeda dengan Angkor Thom yang merupakan ibu kota kerajaan, Angkor Wat memang candi. Walaupun sama-sama dibangun di abad 12 M, Angkor Wat lebih tua dari Angkor Thom. Angkor Wat yang dibangun oleh Raja Suryavarman II awalnya adalah candi Hindu. Candi ini berada di dalam ibu kota lama Kerajaan Khmer. Namun, Kerajaan Khmer diserang oleh Kerajaan Champa.
Kemudian, kedaulatan Khmer berhasil diperoleh lagi di tangan Raja Jayavarman VII. Beliau kemudian mendirikan ibu kota baru, Angkor Thom, yang terletak tidak jauh dari ibukota lama, dan mengubah agama kerajaan menjadi Buddha. Angkor Wat yang tadinya merupakan candi Hindu pun turut berubah menjadi candi Buddha.
Satu hal yang saya ingat, saat di Angkor Wat saya bilang ke suami saya "Katanya disini beruntung kalau lihat apsara (semacam bidadari perempuan) yang kelihatan giginya, karena dari sekitar 2000 relief apsara di Angkor Wat, hanya ada 1 yang tersenyum sampai terlihat giginya". Baru selesai bicara, saya menengok ke dinding candi di belakang saya, dan apsara bergigi sedang tersenyum menyeringai ke arah saya! Wah, saya beruntung! Sayangnya saya tidak menemukan file fotonya di cloud.

Selain menjelajahi Angkor Wat dan Angkor Thom, pengemudi tuktuk kami juga membawa kami ke Banteay Srei. Candi Hindu dari abad 10 M yang terletak sekitar 25 km dari Angkor Wat dan Angkor Thom. Karena lebih tua, maka gaya seni dan material candi ini agak berbeda dari gaya Angkor.
Namun, yang lebih seru bagi kami adalah perjalanan menuju ke Banteay Srei. Pengemudi tuktuk kami membawa kami melewati jalan-jalan di perkampungan di pelosok Siem Reap. Seru banget bisa lihat kehidupan pedesaan di Kamboja! Off the tourist track! Pulangnya kami melewati jalan besar yang biasa, dan tentunya mampir ke pasar untuk belanja cinderamata. Dompet sutra Kamboja saya masih awet lho sampai hari ini!

Oh ya, sebagai pasangan arkeolog, best of the best experience kami di Siem Reap tentu saja kunjungan ke Ta Prohm. Candi Buddha yang didedikasikan untuk ibunda Jayavarman VII yang juga tempat shooting film Tomb Raider! Di tahun 2009 film Tomb Raider masih cukup happening. Pohon-pohon besar yang tumbuh di antara batu-batu candi memang membuat aura candi ini berbeda. Jadi lebih misterius rasanya.

Singapura
Pada masa itu, penerbangan langsung dari Kamboja ke Vietnam juga tidak ada. Kami juga bukan tipe turis backpacker yang "mau susah" lewat jalan darat, namanya juga lagi bulan madu. Maka kami terpaksa terbang balik ke Singapura sebelum menuju Vietnam. Namun, namanya pengantin baru, isi dompet juga pastinya masih paspasan. Jadi, budget airline to the rescue! Sebagai alumni traveller mahasiswa di Australia, tentu saja saat itu saya masih setia naik Jetstar. Bahkan, kami naik Jetstar di semua penerbangan kami dari dan ke Kamboja dan Vietnam lewat Singapura. Disclaimer, ini bukan sponsored post ya, hehe...
Kala ke-2 di Singapura fokus kami bukan lagi museum tetapi kuliner. Tentunya kami makan Hainan Chicken Rice kesukaan saya di Food Republik di Orchard Road. Juga jajan es potong di Clarke Quay. Tidak lupa kami menikmati pemandangan Singapura di kala malam dari Singapore Flyer, unforgetable!

Ho Chi Minh City
Selepas dari Singapura, kota Vietnam pertama yang kami datangi adalah Ho Chi Minh City di selatan Vietnam. Kota ini dulu bernama Saigon. Jujurnya, kami agak "mati gaya" di sore pertama kami di Ho Chi Minh City. Berhubung sebelum pergi kami agak kurang riset tentang Ho Chi Minh City, maka kami jadi tidak tahu harus pergi kemana.

Akhirnya kami pergi ke gereja Notre Dame Cathedral, Central Post Office dan beberapa bangunan tua bergaya Eropa lainnya yang eksis sejak Vietnam di jajah Perancis. Lalu, kami makan malam di Ben Thanh Market. Tebak kami makan apa? Pho 24! Maaf kalau saya sebut merek, tapi ini juga bukan iklan berbayar ya.
Antara sedih atau ingin tertawa, saya merasa ada "ketimpangan sosial". Pho 24 di Ho Chi Minh City betul-betul berada di pasar tradisional. Padahal, di Jakarta, restaurant dengan merek yang sama biasa saya sambangi di mall-mall elit atau di gerai tersendiri di bilangan Pondok Indah! Hmm...
Oh ya, sebagai cucu dari seorang traveller sejati, nenek saya sudah wanti-wanti, "Di Ho Chi Minh City jangan lupa ke Cu Chi Tunnels, kamu pasti suka!" Apa itu Cu Chi Tunnels? Cu Chi Tunnels adalah jaringan terowongan bawah tanah yang digunakan oleh tentara Viet Cong untuk jalur transportasi, tempat persembunyian, tempat tinggal, penyimpanan senjata dan penyimpanan makanan, dapur, bahkan rumah sakit, di kala perang Vietnam dahulu.
Kini terowongan tersebut di preservasi sepanjang 120 km dan dijadikan memorial park, semacam open air museum. Demi kemudahan akses ke Cu Chi Tunnels, kami memutuskan untuk ikut tur dari hotel.

Sesampainya di situs, kami diperlihatkan display rekonstruksi berbagai jebakan yang dipasang saat perang Vietnam dulu. Ngeri! Juga dijelaskan tentang teknologi ventilasi terowongan, terutama ventilasi dapur, agar lokasi terowongan sulit diketahui musuh (baca: Amerika Serikat).
Area latihan menembak di situs juga membuat bulu kuduk saya berdiri. Pasalnya, suara tembak-tembakan di kejauhan membuat saya parno! Bagaikan berada di medan perang betulan!

Turis juga bisa masuk ke beberapa bagian terowongan. Tentunya saya dan suami juga mencoba masuk. Ada untungnya ternyata bertubuh pendek, mobilitas saya di dalam terowongan sempit ternyata jauh lebih mudah dibandingkan suami! Saya dan suami bahkan the last man crawling! Maksudnya, peserta yang berhasil menjelajahi terowongan paling jauh dibandingkan peserta tur yang lain yang sudah menyerah duluan dengan sempitnya terowongan.
Pemandu tur kami juga sempat memperagakan cara masuk ke dalam terowongan melalui pintu rahasianya. Kunjungan ke Cu Chi Tunnels juga menutup petualangan kami di Ho Chi Minh City karena kami kemudian terbang lagi ke Hanoi.

Hanoi
Memori saya tentang Hanoi adalah, seperti di Siem Reap, interior kamar hotel kami bagus, lebih bagus daripada di Singapura atau Ho Chi Minh City. Sayangnya saya lupa nama hotelnya.
Kami juga menghabiskan banyak waktu untuk menyusuri kota tua Hanoi yang cantik tapi dipenuhi sepeda motor! Masalahnya, motor tidak berhenti kalau ada orang menyeberang jalan. Jadi, kami harus terus percaya diri berjalan dan biarkan saja motor yang berbelok-belok menghindari kami, horor!

Kalau di Siem Reap kami belanja produk-produk dari sutera dan wayang Kamboja, di Hanoi kami sibuk borong lampion yang cantik-cantik sekali desain dan warnanya. Saya juga ingat kami mampir ke danau yang ada pagoda nya tepat di tengah kota Hanoi. Juga beberapa kali makan malam di cafe yang sama yang terletak di roof top sebuah gedung. Pemandangan city view dari tempat tinggi memang juara.

Namun, kami juga sempat "tertipu" buku panduan Lonely Planet. Di buku travel guide tersebut dituliskan bahwa ada daerah di Hanoi yang "worth to visit" karena menampilkan exotic Asian alley. Ketika kami sudah susah-susah sampai di lokasi, rasanya seperti berada di gang kumuh di kawasan Glodok atau Kota Tua Jakarta! Saya merasa bodoh dan jadi ingin berkata kotor, hehe..
Tapi, kami juga sempat menonton pertunjukan water puppet di Hanoi. Panggung pertunjukan wayang khas Vietnam bagian utara ini berukuran sekitar 4 meter persegi, dan dipenuhi air setinggi lutut orang dewasa. Wayangnya sendiri berbentuk boneka 3D dan terbuat dari kayu. Para pemainnya menggerakan wayang dengan tali, sambik sembunyi di balik back drop panggung. Setelah 12 tahun berlalu tentunya saya tidak ingat lagi isi ceritanya, namun pastinya pertunjukkannya berisi cerita rakyat Vietnam.

Ha Long Bay
Nah, ini dia destinasi utama suami saya. Apalagi sebelum kami berangkat, nenek saya, yang sudah pernah ke Ha Long Bay sebelumnya, semangat sekali mendeskripsikan indahnya pemandangan pulau-pulau limestone yang ditutupi hutan tropis tersebut. Jadi penasaran.

Berhubung budget paspasan, dari Hanoi kami naik bis umum, lalu menyebrang menggunakan kapal kecil, kemudian berganti kendaraan sebesar mobil travel, hingga akhirnya naik ojek untuk bisa tiba di hotel kami di daerah Cat Ba. Hotel kami besar dan tepat berada di pinggir pantai. Hotel yang sama dengan tempat nenek saya pernah menginap. Suami saya lantas berkomentar "Eyang bisa sampai kesini gimana caranya ya, terbang?". Ternyata, beliau cruise dengan kapal pesiar, beda "kelas" memang, hehe...
Dari hotel, kami bayar paket naik kapal kayu junk keliling Ha Long Bay. Dengan polosnya, saya dan suami tidak membawa baju ganti, karena kami pikir kami hanya akan dibawa berkeliling naik kapal dan kembali lagi. Ternyata, kami diturunkan di satu pulau, dan kapal pun meninggalkan kami, untuk kemudian dijemput lagi nanti.
Kami jadi serba salah, ingin berenang di laut atau canoeing tapi tidak membawa baju ganti. Lagipula kami hanya berdua. Mau diletakkan dimana kamera, dompet dan paspor kami. Tidak mungkin kan di geletakan di pantai begitu saja. Jadi, kami foto-foto saja.


Sore hari nya kami dijemput lagi oleh kapal kami dan dibawa berkeliling Ha Long Bay disaat matahari akan terbenam. Memang indah sekali pemandangannya. Seru juga lihat kehidupan masyarakat setempat. Pantas saja area ini dijadikan UNESCO World Heritage Site.

Dari Ha Long Bay selesai sudah bulan madu kami. Kami kembali ke Hanoi, tentunya dengan cara ngeteng seperti saat kami berangkat. Kondektur bis bahkan sedia dingklik lho! Jadi, penumpang tambahan bisa duduk di lorong bis. Memang Vietnam itu "menakjubkan"! Dari Hanoi kami terbang ke Singapura (lagi!), dan kemudian Jakarta.
Sesampainya kami di Jakarta, papa saya tiba-tiba bertanya, "Siapa mau ikut papa makan pho?". Saya dan suami kompak menjawab TIDAK! Maklum, sudah berapa hari kami setiap hari makan pho. Cukup sudah, hehe...

Nah, begitulah cerita honeymoon kami 12 tahun lalu. Bulan madu ala pasangan arkeolog, tidak jauh-jauh dari museum dan situs, hehe... Tapi, saya jadi kepikiran, sepertinya seru kalau honeymoon lagi kalau pandemi selesai nanti. Enaknya kemana ya? Ada ide?

Komentar