top of page

Hiroshima: Situs Dark Tourism

  • Gambar penulis: Ajeng Araini-Kusno
    Ajeng Araini-Kusno
  • 6 Agu 2021
  • 5 menit membaca

Hiroshima dan Nagasaki. Dua nama kota di Jepang yang begitu sering di dengar dalam pelajaran sejarah Indonesia. Dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Sekutu pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Jepang kemudian menyerah tanpa syarat. Peristiwa tersebut juga berefek pada Indonesia yang kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya.


Kini, peristiwa sejarah kelam yang juga merupakan salah satu tragedi kemanusiaan paling dahsyat di abad 20 tersebut menjadikan Hiroshima sebagai situs dark tourism yang konon katanya dikunjungi oleh satu juta pengunjung pertahun. Tentunya angka ini adalah hitungan sebelum pandemi berkecamuk. Saya sekeluarga besar kebetulan pernah menjadi salah satu rombongan dark tourists ke Hiroshima di tahun 2016.


Trip kami ke Jepang 5 tahun silam sebetulnya berbasis di Osaka. Namun, Hiroshima adalah salah satu destinasi one-day trip kami. Osaka-Hiroshima dapat ditempuh dalam waktu 1.5 jam dengan menggunakan kereta cepat Shinkansen. Tentunya tujuan utama kami adalah Hiroshima Peace Memorial Park yang terdiri atas bangunan A-Bomb Dome dan Hiroshima Peace Memorial Museum.


Hiroshima Peace Memorial Park dapat diakses dari JR Hiroshima Station, Hiroshima Bus Center ataupun Hiroshima Port dengan menggunakan Hiroshima Electric Railway Streetcar ini. Didirikan tahun 1910, beberapa gerbong dari Hiroshima Streetcar ini selamat dari bom atom karena saat peristiwa terjadi gerbong sedang dikandangkan di luar kota. Kini gerbong yang selamat masih dipertahankan dan digunakan untuk melayani turis yang datang ke Hiroshima Peace Memorial Park.


Hiroshima Electric Railway Streetcar

Turun dari Hiroshima Electric Railway Streetcar, kami kemudian harus berjalan kaki tidak seberapa jauh untuk mencapai A-Bomb Dome. A-Bomb Dome ini adalah bekas gedung Hiroshima Prefecture Industrial Promotion Hall yang dibangun tahun 1915 yang luluh lantak akibat bom atom. Walaupun hanya berjarak sekitar 160 meter dari pusat dijatuhkannya bom atom, gedung ini tidak rata dengan tanah.


Ledakan bom atom di udara di ketinggian sekitar 600 meter tepat hampir di atas gedung ini justru menyebabkan gedung ini tetap berdiri tegak, walaupun semua orang didalamnya meninggal dunia. A-Bomb Dome kemudian menjadi ikon perdamaian kota Hiroshima dan tahun 1996 ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site.


A-Bomb Dome

Dari A-Bomb Dome, kami kemudian berjalan menuju Hiroshima Peace Memorial Museum. Terletak di satu garis lurus diantara A-Bomb Dome dan Hiroshima Peace Memorial Museum, dibangunlah api perdamaian dan Memorial Cenotaph. Memorial Cenotaph ini dibangun untuk mengenang para korban bom atom di Hiroshima. Memorial Cenotaph ini juga didesain untuk pengunjung apabila pengunjung ingin mendoakan korban bom atom. Juga sebagai lambang perdamaian agar tragedi serupa tidak akan pernah terjadi lagi di tempat lain di masa depan.


Memorial Cenotaph
Hiroshima Peace Memorial Museum

Sepenggal kisah tragedi kemanusiaan yang terjadi tanggal 6 Agustus 1945 di Hiroshima diabadikan di Hiroshima Peace Memorial Museum ini. Narasi disampaikan melalui foto-foto dan bukti tinggalan materi yang menyayat hati. Agar lebih menghayati peristiwa yang terjadi, saran saya, coba sewa audio guide seharga ¥300. Ada pilihan Bahasa Indonesia lho!


Narasi tata pamer museum di mulai di lorong di lantai 2, yang menampilkan foto-foto bom atom yang berbentuk seperti jamur. Perbedaan bentuk dan besar "jamur" menunjukkan perbedaan jam diambilnya foto dari sejak bom atom dijatuhkan. Lalu, begitu masuk ke ruangan pameran, pengunjung langsung dihadapkan dengan maket kota Hiroshima. Maket ini menerangkan bahwa ledakan bom atom tersebut menewaskan lebih dari 200.000 orang dan menghancurkan kota Hiroshima sejauh radius 2 km. Kota berubah menjadi debu. Hanya ada beberapa bangunan yang tetap bertahan walaupun hancur.


Maket Kota Hiroshima setelah bom atom dijatuhkan

Selain maket, ada pula diorama yang mengilustrasikan bahwa tidak semua korban bom atom langsung meninggal di tempat. Banyak juga yang mengalami luka bakar parah hingga mata, kulit dan daging mereka ikut meleleh. Namun, para korban berhasil menemukan jalan pulang dan meninggal kemudian. Oleh karena terluka amat parah, banyak dari para korban bahkan tidak dikenali oleh keluarganya sendiri saat tiba dirumah! Oh ya, hati-hati, diorama ini (dan narasi museum secara keseluruhan) cukup menakutkan bagi anak-anak.


Diorama korban bom atom

Namun, bagi saya pribadi, hal yang paling menyayat hati bukanlah diorama museum, melainkan benda-benda peninggalan korban bom atom. Misalnya, benda-benda milik siswa-siswi sekolah. Banyak siswa-siswi sekolah yang menjadi korban karena pada saat peristiwa berlangsung mereka sedang berada di sekolah. Keluarga mereka kemudian mendonasikan benda-benda peninggalan mereka dan cerita mereka ke Hiroshima Peace Memorial Museum. Benda-benda peninggalannya bervariasi, mulai dari seragam sekolah yang compang camping, sandal yang meleleh, hingga kotak makan yang sudah hangus. Semua ceritanya membuat bulu kuduk saya berdiri.


Seragam sekolah di display Hiroshima Peace Memorial Museum

Selain itu, satu koleksi di display museum yang ceritanya paling saya ingat adalah sepeda milik Shinichi Tetsutani (3 tahun 11 bulan). Shinichi sedang bermain sepeda di luar rumah ketika bom atom meledak. Ia pun terkena luka bakar hebat dan meninggal dunia di malam harinya. Ayahnya yang sangat sedih merasa Shinichi terlalu kecil untuk dimakamkan sendirian. Maka, sepeda roda 3 dan helm Shinichi yang juga hangus turut dikubur dibelakang rumah bersama Shinichi. 40 tahun kemudian, ketika sang ayah memindahkan Shinichi ke pemakaman keluarga, ia mendonasikan sepeda dan helm Shinichi ke Hiroshima Peace Memorial Museum.


Sepeda dan helm Shinichi Tetsutani

Cerita lain yang juga melekat di memori saya adalah kisah mengenai Sadako Sasaki. Sadako berumur 2 tahun ketika tragedi bom atom terjadi. Sebetulnya saat itu Sadako selamat dan tidak terluka. Namun, 9 tahun kemudian Sadako didiagnosa terkena kanker darah akibat radiasi nuklir dari bom atom.


Selama sakit Sadako rajin membuat origami berbentuk burung (lambang perdamaian) dan berharap agar penyakitnya segera sembuh. Namun harapannya tidak terkabul. Sadako meninggal dunia. Kisah Sadako dan burung origaminya menginspirasi dibangunnya Children’s Peace Monument di Hiroshima Peacee Memorial Park. Cerita, foto-foto, dan burung-burung origami Sadako juga dipajang di Hiroshima Peace Memorial Museum.


Origami burung perdamaian yang dibuat oleh Sadako Sasaki

Selesai dari ruang pamer museum, pengunjung kemudian kembali ke ruangan berbentuk lorong yang mirip seperti lorong berisi foto-foto bom atom di awal kunjungan. Namun, lorong yang ini berisi testimoni rekaman video korban yang selamat dari bom atom. Saya sendiri sudah tidak memilili energi lagi untuk mendengarkan. Bagi saya pribadi, kunjungan ke museum yang menceritakan sejarah kelam sangat menyita emosi. Terpaksa testimoni saya skip. Saya memilih minum kopi di cafe museum di lantai 1.


Oh ya, selain fasilitas museum seperti toilet, cafe, tempat penitipan barang dan penyewaan audio guide, di lobby museum juga ada jam istimewa yang bernama peace watch. Jam ini menunjukkan jumlah hari yang telah terlewati setelah tragedi bom atom, juga jumlah hari setelah uji coba nuklir terakhir dilakukan.


Jam istimewa di lobby Hiroshima Memorial Park Museum

Selesai dari museum, kami sekeluarga harus kembali ke JR Hiroshima Station untuk naik Shinkansen dan kembali ke Osaka. Kami memilih naik bis yang berhenti tepat di depan museum dan mengambil rute yang berbeda dari saat kami tiba tadi. Sayonara Hiroshima!


Walaupun 5 tahun telah berlalu dari kunjungan satu hari saya ke Hiroshima, kunjungan tersebut tetap berkesan. Kini, 76 tahun dari akhir Perang Dunia 2, dunia juga sedang tidak baik-baik saja. Tapi kunjungan ke situs dan museum yang menceritakan dark history mengajarkan saya bahwa setiap badai pasti berlalu. Setelah peristiwa Perang Dunia 2 dan bom atom yang meluluhlantahkan Hiroshima di tahun 1945, Hiroshima (dan Jepang) sudah bangkit lagi. Jadi, pandemi ini pun suatu saat nanti pasti akan berlalu. Semoga kita semua sehat dan survive dari pandemi, karena jujurnya, saya tidak sabar untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri lagi!




Disclaimer: almost all photos are courtesy of my cousin: @galihandika, kecuali foto origami Sadako Sasaki yang blur. Karena blur pasti foto itu hasil jepretan saya, hehe...

 
 
 
bottom of page