top of page

Luxembourg City: Hemat di Kota “Mahal”

  • Gambar penulis: Ajeng Araini-Kusno
    Ajeng Araini-Kusno
  • 20 Mei 2019
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 25 Jul 2021


Tahun baru 2019 ini suami dan mertua saya sedang ada di Belanda. Kami pun memutuskan untuk liburan ke beberapa kota di dekat Belanda via naik kereta. Karena saya dan anak-anak hanya punya sisa libur 6 hari (termasuk hari perjalanan pergi dan pulang), kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke Frankfurt (Jerman), Luxembourg dan Antwerp (Belgia).


Ternyata Luxembourg itu terkenal sebagai negara yang mahal! Teman saya orang Belanda sampai berkomentar (dalam Bahasa Inggris) “Wah, kamu liburan sekeluarga ke Luxembourg? Orang kayaaa...” Hahaha...


Memang sih harga penginapan di Luxembourg City (ibu kota Luxembourg) jauh lebih mahal dibandingkan dengan standar penginapan di kota-kota lain di Eropa. Pilihan hotelnya pun tidak banyak. Beruntung kami dapat hotel yang tidak terlalu jauh dari pusat kota dan harganya tidak terlalu menguras dompet. Lagipula, saya punya beberapa tips agar lebih hemat saat jalan-jalan ke destinasi wisata yang mahal seperti Luxembourg. Apa saja sih tips nya?


#1 Bawa Rice Cooker dan Perbekalan Makanan Sendiri


Yup! Saya bawa rice cooker, beras, abon, sereal, dan susu bubuk secukupnya untuk perbekalan selama di perjalanan apabila dibutuhkan.


Benar saja, kami tiba di Luxembourg City jumat malam. Saat check in di hotel (kami menginap 2 malam) petugas hotel menyampaikan bahwa sarapan tersedia dengan harga €20 per orang. Gila, mahal banget! Itu sih harga makan siang/malam di restaurant bagus di Belanda. Di hotel kami di Antwerp harga sarapan “hanya” €7.5 per orang. Berhubung saya bawa sereal dan susu bubuk, jadi kami sarapan sereal dan susu selama 2 hari. Lumayan, irit €120 dengan hitungan 3 orang x €20 x 2 hari.


Di hari kami harus meninggalkan Luxembourg untuk kembali ke Belanda, saya juga sudah masak nasi untuk bekal makan siang pakai abon di kereta. Di stasiun, sebelum berangkat kami beli roti dulu untuk tambahan perbekalan di kereta. Makan nasi pakai abon di perjalanan oke saja kok. Mengenyangkan dan anak-anak juga makan dengan lahap. Kalau masih lapar tinggal makan roti.


Oh ya, rice cooker juga berguna untuk masak mie instan dan merebus telur lho!


#2 Pilih Menginap di Akhir Pekan


Mengapa akhir pekan? Karena naik bis umum di Luxembourg City gratis setiap akhir pekan! Asiknya, hotel kami tepat berada di depan halte bis dan jarak ke pusat kota hanya sekitar 5 pemberhentian bis. Jadi kami tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi, yeay irit lagi!


Berhubung pusat kota Luxembourg City tidak besar, maka kebanyakan destinasi wisata dapat ditempuh dengan cara berjalan kaki. Irit ongkos lah pokoknya, hehe...


Salah satu sudut di pusat kota Luxembourg City

#3 Pilih Destinasi Wisata Gratis


Bukannya pelit atau berniat mengirit, tetapi dari awal kami memang berencana mengunjungi Gereja Cathedrale Notre-Dame of Luxembourg, benteng kota, dan Musee National d’Histoire et d’Art. Ternyata masuk ke ketiga destinasi tersebut gratis! Senangnya!


Cathedrale Notre-Dame atau Cathedral of Our Lady di Luxembourg

Gereja Cathedrale Notre-Dame atau Cathedral of Our Lady di Luxembourg dibangun tahun 1600-an dan bergaya arsitektur Gothic. Ketika suami dan mertua sibuk mengagumi indahnya interior gereja, saya sibuk menjelaskan konsep Agama Nasrani, Nabi Isa dan Yesus, serta fungsi gereja ke anak-anak. Ini kali pertama mereka masuk ke dalam gereja. Anak saya yang besar terutama terpesona sekali dengan alat musik orgen kuno yang berukuran sangat besar di balkon gereja.


Orgen tua di balkon gereja


Setelah dari gereja, tidak lupa kami foto-foto di pusat kota Luxembourg City. Terutama foto-foto di depan Grand Ducal Palace. Grand Ducal Palace adalah istana tempat tinggal Grand Duke of Luxembourg (kepala negara) dan keluarganya. Sayangnya saat itu istana sedang tidak dibuka untuk umum.


Grand Ducal Palace of Luxembourg


Kami juga mampir ke Christmas Market di pusat kota. Biasanya menjelang Natal sampai dengan sekitar tahun baru, kota-kota di Eropa memang punya Christmas Market. Christmas Market ini semacam pasar “pop-up” berisi kios-kios yang menjual makanan, minuman dan pernak-pernik natal. Pasar ini juga sering kali dilengkapi dengan arena ice skating.


Christmas Market adalah satu-satunya tempat dimana kami tidak bisa “irit”. Pertama, arena ice skating-nya kosong! Berbeda sekali dengan di kota kami di Belanda yang biasanya penuh orang. Tentu saja anak saya langsung semangat main ice skating. Kedua, aroma churros dan hot chocolatenya lezat sekali. Siapa bisa menolak jajan! Hehe...


Biasanya gelas hot chocolate yang dijual di Christmas Market boleh dibawa pulang untuk kenang-kenangan. Desainnya juga biasanya keren. Tetapi kalau tidak mau membawa pulang gelas, gelasnya bisa kita kembalikan dan sebagian uang kita akan dikembalikan. Lucu ya konsep jualannya.


Destinasi kami berikutnya (setelah makan siang) adalah Chemin de la Corniche. Pemandangan dari Chemin de la Corniche atau yang dikenal dengan julukan “the most beautiful balcony of Europe” memang indah sekali. Lembah berisi bangunan-bangunan tua dan tembok kota Luxembourg (benteng) yang dibangun sejak zaman Medieval adalah perpaduan keindahan yang sempurna! Benteng Kota Luxembourg tersebut juga dinobatkan sebagai UNESCO World Heritage Site.


Benteng tembok Kota Luxembourg yang diakui sebagai UNESCO World Heritage Site

Kami ber-6 di Chemin de la Corniche dengan pemandangannya yang spektakuler


Berhubung saat itu suhu udaranya -3 derajat Celcius, jadi terlalu lama di luar ruangan juga bikin beku! Kami kemudian menghangatkan diri di Musee National d’Histoire et d’Art (Museum Nasional Sejarah dan Seni). Museum nasional Luxembourg ini berada di gedung berarsitektur modern (kalau tidak salah 8 lantai) dan menampilkan koleksi Arkeologi serta koleksi benda seni.


Musee National d'Histoire et d'Art, Luxembourg


Artefak arkeologi masa Prasejarah hingga Medieval yang ditemukan di Luxembourg dipamerkan di 5 lantai. Sedangkan 3 lantai di bagian atas museum memamerkan koleksi seni. Koleksi seni yang dipamerkan beragam, dari lukisan masa Renaissance hingga karya seni modern dan kontemporer, fotografi, serta decorative art dan desain. Tentu saja temanya berkisar sekitar Luxembourg. Baik karya seniman Luxembourg ataupun seniman Eropa lainnya yang (kebanyakan) membuat karya seni mengenai Luxembourg.


Interior bagian dalam museum


Saat kami selesai menjelajahi museum waktu hampir menunjukkan pukul 5 sore. Berhubung jalan-jalan di musim dingin maka malam memang lebih cepat datang. Kami pun memutuskan untuk membeli makan malam dan kembali ke hotel. “Petualangan” kami di Luxembourg City pun berakhir. Keesokan harinya kami harus menuju Belgia sebelum tiba di Belanda lagi.


Tidak disangka dan tanpa direncanakan, liburan kami ke Luxembourg City yang terkenal sebagai kota “mahal” tidak terlalu “menguras” dompet. So, moga-moga tips ini bermanfaat. Siapa tahu ada yang berminat jalan-jalan ke Luxembourg. Walaupun kotanya mahal tetapi pemandangannya cantik sekali!

Boleh yaa pajang foto kami di the most beautiful balcony of Europe :)

Komentar


bottom of page